
Sukabumi – Keresahan para pengguna jalan pun semakin nyata. Banyak pengendara merasa bahwa kehadiran petugas di titik-titik macet belum memberikan dampak yang signifikan jika hanya sekadar berdiri tanpa melakukan rekayasa lalu lintas yang progresif.
Seorang sopir logistik yang rutin melintasi jalur ini, sebut saja Pak Hendra (45), mengungkapkan kekecewaannya.
“Tiap hari lewat sini, macetnya sudah sampai tahap tidak masuk akal. Kadang kita lihat petugas ada di sana, tapi kesannya cuma menonton atau hanya mengatur di satu titik saja. Seharusnya ada ketegasan, misalnya truk yang mogok di tengah jalan atau angkot yang ngetem sembarangan itu langsung ditindak. Jangan baru sibuk kalau ada pejabat mau lewat saja,” keluh Hendra saat ditemui di sela-sela kemacetan di depan Pasar Cibadak.
Senada dengan Hendra, seorang komuter asal Sukabumi yang bekerja di Bogor, Maya (28), menyoroti kurangnya antisipasi petugas pada jam-jam krusial.
”Kami paham volume kendaraan memang banyak, tapi seringkali kemacetan diperparah karena tidak ada pengaturan yang tegas di persimpangan-persimpangan kecil. Aparat seharusnya lebih proaktif melakukan jemput bola, bukan cuma menunggu di pos. Kami bayar pajak dan tol mahal-mahal bukan untuk tua di jalan karena manajemen lalu lintas yang lemas,” tegasnya.
Kritik untuk Perbaikan ke Depan
Kritik dari masyarakat ini sejatinya menjadi sinyal bahwa publik menuntut kehadiran negara yang lebih nyata di lapangan.
Koordinasi antara Kepolisian, Dinas Perhubungan, dan pengelola jalan tol harus ditingkatkan, terutama dalam hal:
Respons Cepat: Menangani kendaraan mogok atau kecelakaan kecil yang sering menjadi penyebab macet berantai.
Penertiban Titik Konflik: Ketegasan terhadap parkir liar dan pedagang yang meluber hingga ke badan jalan.
Konsistensi Penjagaan: Petugas diharapkan hadir secara konsisten, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari, bukan hanya pada saat operasi khusus atau hari besar.
![]()
