
SUKABUMI –Sabtu, 28 Februari 2026. Kondisi sarana dan prasarana di SD Negeri Gulingjawa, yang berlokasi di Jalan Gulingjawa, Desa Nagrak Selatan, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, kini tengah menjadi sorotan tajam. Bangunan sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi siswa, terpantau mengalami kerusakan serius dan terkesan dibiarkan tanpa perawatan selama bertahun-tahun.
Kontras dengan Status Akreditasi
Berdasarkan papan informasi sekolah yang terpasang di halaman depan, SDN Gulingjawa sejatinya merupakan sekolah dengan Akreditasi B. Status ini ditetapkan berdasarkan SK Akreditasi: 02.00/280/BAP-SM/SK/X/2016 tertanggal 19 Oktober 2016, dengan NPSN 20203068.
Namun, status akreditasi “Baik” tersebut berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Pantauan visual menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan:
- Atap yang Lapuk: Kayu penyangga atap (usuk dan reng) terlihat kusam, menghitam, dan mulai melapuk dimakan cuaca.
- Kaca Jendela Pecah: Banyak lubang jendela yang kacanya sudah hilang atau pecah, hanya ditutup seadanya dengan lembaran triplek usang.
- Dinding Tak Terawat: Cat dinding berwarna hijau dan kuning sudah memudar, dipenuhi noda hitam, dan mengelupas di berbagai sudut.
- Material Terbengkalai: Di area selasar, tampak tumpukan batako yang tidak tertata, menambah kesan kumuh pada lingkungan sekolah.
Dugaan Pengelolaan Dana BOS yang Tidak Tepat
Kerusakan-kerusakan ini memicu dugaan adanya ketidakberesan dalam pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), khususnya pada komponen pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah. Sesuai aturan, Dana BOS seharusnya dialokasikan secara rutin untuk perbaikan ringan guna menjaga kelayakan fasilitas belajar.
Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi sekolah.
”Sangat miris melihat sekolah dengan akreditasi B tapi kondisinya seperti bangunan tidak berpenghuni. Kaca-kaca pecah hanya ditutup triplek, atapnya sudah pada lapuk. Kami sebagai orang tua jadi khawatir kalau anak-anak belajar di dalam kelas, takut tiba-tiba ada yang ambruk. Pertanyaannya, setiap tahun kan ada dana BOS untuk perawatan ringan, tapi kenapa tidak ada perubahan sama sekali?” ujar S, salah satu wali murid.
Senada dengan hal tersebut, aktivis pendidikan setempat juga mendesak adanya transparansi anggaran dari pihak manajemen sekolah.
”Kami menduga ada yang tidak beres dengan manajemen anggaran di SDN Gulingjawa. Komponen perawatan sarana prasarana dalam dana BOS itu jelas aturannya. Kalau melihat kondisi fisik gedung yang catnya sudah berlumut dan kayu penyangga yang keropos seperti ini, patut dipertanyakan ke mana aliran dana tersebut selama ini. Kami minta Dinas Pendidikan segera mengevaluasi kepala sekolahnya,” tegas H, seorang aktivis pendidikan.
Desakan Audit
Hingga berita ini dimuat, pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi belum memberikan klarifikasi resmi mengenai penyebab pembiaran kerusakan fasilitas di SDN Gulingjawa. Masyarakat mendesak pihak inspektorat untuk melakukan audit investigatif guna memastikan apakah dana perawatan sekolah telah digunakan sebagaimana mestinya atau terdapat penyimpangan yang merugikan negara dan siswa.
Kondisi ini jika terus dibiarkan tidak hanya mencoreng citra pendidikan di Kabupaten Sukabumi, tetapi juga mengancam keselamatan siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Dedi Irawan & Widiyano*©
